BNI

Strategi BNI Redam Tekanan Jual Melalui Buyback Rp1,50 Triliun

Strategi BNI Redam Tekanan Jual Melalui Buyback Rp1,50 Triliun
Strategi BNI Redam Tekanan Jual Melalui Buyback Rp1,50 Triliun

JAKARTA - Langkah proaktif diambil oleh manajemen PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) di tengah badai volatilitas pasar modal yang belum sepenuhnya mereda. Sebagai upaya untuk memulihkan kepercayaan investor dan menegaskan nilai intrinsik perusahaan, BNI secara resmi mengumumkan rencana aksi korporasi berupa pembelian kembali saham atau buyback. Langkah ini dinilai strategis mengingat kondisi pasar yang saat ini dipenuhi oleh sentimen negatif dari ketidakpastian global.

BNI (BBNI) merencanakan untuk melakukan pembelian kembali saham perseroan atau buyback. Aksi buyback itu dilakukan untuk meredam tekanan jual di tengah volatilitas pasar, sekaligus memberi sinyal kepada investor bahwa harga saham perseroan saat ini tidak mencerminkan fundamental perusahaan. Dengan langkah ini, emiten berkode saham BBNI tersebut berharap dapat menstabilkan pergerakan harga sahamnya di lantai bursa.

Detail Finansial dan Mekanisme Buyback BBNI

Berdasarkan dokumen keterbukaan informasi yang dirilis, manajemen BNI telah mengalokasikan dana yang cukup signifikan untuk menyerap saham-saham publik di pasar. Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo menyampaikan nilai transaksi buyback oleh perseroan diperkirakan sebesar Rp1,50 triliun, termasuk biaya transaksi buyback yang meliputi biaya transaksi, biaya penyimpanan, dan commitment fee sekitar 0,32% dari nilai eksekusi buyback.

Okki menegaskan bahwa skala transaksi ini telah dihitung secara cermat agar tetap sesuai dengan regulasi yang berlaku. "Perkiraan nilai transaksi buyback sebesar-besarnya Rp1,50 triliun," tulis Okki dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip pada Minggu. Okki mengatakan perkiraan nilai transaksi buyback tersebut tidak melebihi 10% dari jumlah modal yang ditempatkan dalam perseroan, yang berasal dari arus kas bebas (free cash flow) berupa saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya. Penggunaan saldo laba ini menunjukkan bahwa kondisi likuiditas internal BNI masih dalam kategori sangat sehat.

Analisis Konteks Pasar: Geopolitik dan Tantangan Likuiditas

Latar belakang pengambilan keputusan buyback ini tidak lepas dari tekanan hebat yang dialami sektor perbankan sepanjang tahun lalu. Sepanjang 2025, saham perbankan Indonesia mengalami tekanan, utamanya dipengaruhi oleh ketidakpastian global akibat risiko geopolitik dan ancaman perang tarif. Sementara itu, di dalam negeri, perbankan nasional menghadapi tantangan likuiditas dan perlambatan loan demand.

Kondisi eksternal yang tidak menentu ini membuat investor cenderung bersikap defensif. “Hal ini menyebabkan saham perbankan Indonesia mengalami tekanan lebih dalam dibandingkan dengan bank-bank di kawasan regional,” ujar Okki. Data per 31 Desember 2025 menunjukkan bahwa harga saham BBNI hanya naik 0,5% secara tahunan (year on year/YoY). Kendati performa ini masih lebih baik dari kompetitor lokal (local peers), saham BBNI masih tertinggal jika dibandingkan dengan bank-bank pesaing di tingkat regional (regional peers).

Sentimen Investor dan Depresiasi Nilai Tukar Rupiah

Memasuki awal 2026, kondisi pasar belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan total. Arus dana asing yang masuk belum sepenuhnya pulih meski pasar saham domestik mulai rebound di akhir 2025 seiring kembalinya optimisme investor asing yang mulai masuk kembali. Namun, manajemen menjelaskan bahwa investor masih berhati-hati dalam mengantisipasi dampak ketidakpastian global yang kembali meningkat di awal 2026, terutama dipengaruhi sentimen tensi geopolitik dan ancaman tarif Amerika Serikat.

Ketidakstabilan geopolitik ini memiliki efek domino pada makroekonomi, termasuk pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS. Bahkan, nilai tukar sempat menyentuh level yang lebih rendah daripada masa krisis moneter tahun 1998, yakni senilai Rp16.985 per dolar AS. Dalam situasi yang ekstrem inilah, buyback dilakukan guna membantu mengurangi tekanan jual di pasar saat indeks harga saham sedang berfluktuasi, sekaligus memberi indikasi kepada investor bahwa perusahaan memandang harga saham saat ini tidak mencerminkan fundamental perusahaan yang sesungguhnya masih solid.

Timeline dan Jadwal Penting Rencana Buyback

Agar rencana ini dapat dieksekusi, BNI harus terlebih dahulu mengantongi restu dari para pemegang saham. Adapun rencana buyback akan dibahas dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) untuk kemudian disetujui dalam rapat yang dijadwalkan berlangsung pada 9 Maret 2026.

Berikut adalah rincian perkiraan jadwal buyback saham BBNI yang perlu dicatat oleh para investor:

Pengumuman RUPST dan Keterbukaan Informasi: 29 Januari 2026.

Perkiraan Tanggal RUPST (Persetujuan Rencana): 9 Maret 2026.

Perkiraan Periode Pelaksanaan Buyback: 9 Maret 2026 sampai dengan 8 Maret 2027.

Melalui periode pelaksanaan selama satu tahun penuh, BNI memiliki fleksibilitas waktu untuk melakukan pembelian saham kembali di saat pasar dirasa paling membutuhkan intervensi atau saat harga dianggap paling tidak wajar. Langkah ini diharapkan mampu menjaga kapitalisasi pasar BNI tetap berada pada level yang kompetitif di masa mendatang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index