Batu Bara

Sentimen China Dongkrak Harga Batu Bara Global di Awal 2026

Sentimen China Dongkrak Harga Batu Bara Global di Awal 2026
Sentimen China Dongkrak Harga Batu Bara Global di Awal 2026

JAKARTA - Pasar komoditas energi dunia menutup bulan Januari 2026 dengan catatan impresif. Harga batu bara dilaporkan mengalami lonjakan signifikan pada perdagangan Jumat. Fenomena "melejitnya" harga si hitam ini tidak lepas dari dinamika kebutuhan listrik global yang tetap solid, dengan China muncul sebagai aktor utama yang menopang permintaan di tengah ekspansi masif infrastruktur ketenagalistrikan mereka.

Meskipun dunia tengah berada dalam arus transisi energi, ketergantungan terhadap batu bara terbukti masih sangat kuat. Hal ini tercermin dari pergerakan harga di pasar berjangka yang menunjukkan tren bullish. Lonjakan kebutuhan energi untuk mendukung teknologi masa depan seperti pusat data (data center) serta ekosistem kendaraan listrik menjadi katalis yang menjaga posisi batu bara sebagai tulang punggung pasokan listrik dunia.

Rincian Kenaikan Harga di Pasar Newcastle dan Rotterdam

Kenaikan harga terjadi merata di dua bursa acuan utama dunia, yakni Newcastle (Australia) dan Rotterdam (Eropa). Di pasar Newcastle, kontrak untuk pengiriman Januari 2026 mencatatkan kenaikan sebesar US$ 0,3% ke level US$ 108,9 per ton. Namun, lonjakan lebih tajam terlihat pada kontrak bulan-bulan berikutnya; Februari 2026 melejit US$ 5,75 menjadi US$ 117,5 per ton, sementara Maret 2026 melesat US$ 6,7 menuju level US$ 118,15 per ton.

Kondisi serupa terjadi pada harga batu bara di bursa Rotterdam. Kontrak Januari 2026 menguat US$ 1,25 menjadi US$ 100,2. Sementara itu, untuk periode Februari 2026, harga terkerek US$ 4,6 menjadi US$ 103,4, dan puncaknya pada kontrak Maret 2026 yang melesat hingga US$ 5 menjadi US$ 102,6 per ton. Kenaikan ini membawa harga kontrak berjangka batu bara termal dari pelabuhan Australia menembus di atas US$ 111 per ton, yang merupakan level tertinggi sejak Agustus tahun lalu.

Dominasi China dalam Pembangunan PLTU Baru

Penopang utama dari reli harga ini adalah kebijakan energi China. Sebagai konsumen batu bara termal terbesar di dunia, China menunjukkan sinyal bahwa mereka belum akan melepaskan ketergantungan pada energi fosil dalam waktu dekat. Negara Tirai Bambu tersebut dijadwalkan akan meluncurkan lebih dari 100 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) baru berbahan bakar batu bara sepanjang tahun ini.

Angka tersebut semakin fantastis mengingat saat ini masih terdapat lebih dari 400 unit pembangkit serupa yang sedang dalam tahap konstruksi di berbagai wilayah China. Langkah ambisius ini seolah mengonfirmasi bahwa meskipun ada dorongan terhadap energi terbarukan, batu bara tetap menjadi pilihan utama untuk menjamin stabilitas bauran energi nasional mereka. China memerlukan pasokan daya yang stabil dan besar untuk mengimbangi lonjakan permintaan domestik yang terus tumbuh.

Tren Global: Data Center dan Kendaraan Listrik

Kebutuhan energi yang melonjak tidak hanya terjadi di China, tetapi juga merupakan tren global. Munculnya infrastruktur digital berskala besar seperti pusat data (data center) menuntut pasokan listrik yang tidak terputus selama 24 jam. Selain itu, masifnya pembangunan stasiun pengisian kendaraan listrik di berbagai negara turut meningkatkan beban pada sistem ketenagalistrikan dunia.

Batu bara dipandang sebagai sumber energi yang paling siap untuk menjawab lonjakan kebutuhan tersebut secara cepat dan masif. Kondisi pasar saat ini mencerminkan realitas bahwa untuk menjaga operasional infrastruktur modern, energi fosil masih memegang peran krusial di tengah transisi energi yang dilakukan secara bertahap oleh banyak negara.

Dilema Pasokan dari Indonesia dan Dinamika Impor

Di tengah tingginya permintaan global, sisi penawaran justru menunjukkan potensi penyusutan, terutama dari Indonesia sebagai salah satu eksportir terbesar. Produksi batu bara Indonesia pada tahun 2026 diproyeksikan mengalami penurunan yang cukup dalam, yakni menjadi sekitar 600 juta ton. Angka ini turun drastis jika dibandingkan dengan realisasi tahun lalu yang mencapai hampir 800 juta ton.

Penurunan proyeksi produksi ini salah satunya dipicu oleh pelemahnya angka impor dari dua pasar utama tradisional Indonesia, yaitu China dan India. Meskipun secara global harga tengah menguat, dinamika perdagangan antarnegara dan kebijakan domestik di negara produsen turut memengaruhi volume ketersediaan komoditas di pasar internasional.

Kesimpulan dan Outlook Pasar Energi

Menguatnya harga batu bara global di awal tahun ini menjadi bukti nyata bahwa permintaan energi tetap menjadi faktor penentu utama di pasar komoditas. Meski isu lingkungan dan transisi menuju energi hijau terus digaungkan, kebutuhan akan stabilitas pasokan listrik untuk mendukung peradaban digital dan transportasi elektrik tetap menjadikan batu bara sebagai aset yang sangat bernilai.

Hingga beberapa bulan ke depan, mata para pelaku pasar akan terus tertuju pada realisasi pembangunan PLTU di China dan bagaimana negara-negara produsen seperti Indonesia menyikapi dinamika produksi mereka. Dengan harga yang kini berada di level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir, industri batu bara nampaknya masih akan menikmati masa bulan madu akibat tingginya konsumsi energi dunia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index