JAKARTA - Lanskap komunikasi publik di era digital kini tengah berada dalam pusaran transformasi yang masif seiring dengan penetrasi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Menanggapi fenomena tersebut, Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, memberikan penekanan khusus bagi generasi muda untuk tidak sekadar menjadi penonton, melainkan harus adaptif dalam menghadapi disrupsi teknologi. Langkah ini dinilai sangat krusial agar fungsi kehumasan tetap relevan dan mampu menjawab tantangan di tengah perubahan lanskap media yang semakin dinamis.
Pesan tersebut disampaikan Astrid dalam ajang Solo Prime Time 2026 yang diinisiasi oleh Perhumas Muda Surakarta di Monumen Pers Nasional pada Sabtu. Forum ini menjadi wadah strategis bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di wilayah Solo Raya untuk membedah lebih dalam mengenai korelasi antara kemajuan teknologi, AI, serta cara membangun kepercayaan publik di era media baru.
Urgensi Literasi Digital bagi Praktisi Komunikasi Masa Depan
Kehadiran mahasiswa dalam forum diskusi ini dipandang sebagai sinyal positif atas meningkatnya kesadaran generasi muda terhadap peran vital humas. Menurut Astrid, praktik kehumasan kontemporer tidak lagi dapat dipisahkan dari ekosistem teknologi digital. Ia memuji inisiatif Perhumas Muda Surakarta yang telah membawa diskursus profesional ke tingkat akademik sejak dini.
“Perhumas Muda Surakarta sudah menginisiasi acara yang luar biasa, karena biasanya Perhumas berbicara tentang kehumasan ketika sudah bekerja, tetapi hari ini mahasiswa sudah mulai berbicara dan belajar tentang kehumasan serta perkembangan digital. Anak-anak muda juga harus bisa memfilter konten digital secara bijak dan menyiapkan konten-konten positif,” jelas Astrid. Ia menekankan bahwa selain penguasaan alat, kemampuan kurasi dan produksi konten positif merupakan benteng utama dalam menjaga kredibilitas di ruang siber.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Memperkaya Perspektif Kehumasan
Penyelenggaraan Solo Prime Time 2026 tidak hanya mengandalkan perspektif dari sisi birokrasi semata. Kegiatan ini dirancang secara komprehensif dengan melibatkan narasumber dari unsur pemerintah, akademisi, hingga jurnalis senior. Sinergi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman multisektoral kepada peserta, sehingga mereka dapat melihat tantangan komunikasi dari berbagai sudut pandang yang objektif.
Paparan dari para pakar tersebut diharapkan mampu membekali mahasiswa dengan wawasan yang luas mengenai bagaimana lanskap media baru bekerja dalam membentuk opini dan kepercayaan masyarakat. Melalui kolaborasi ini, mahasiswa didorong untuk berperan aktif dalam menciptakan ekosistem komunikasi yang sehat dan bertanggung jawab.
AI Sebagai Alat Bantu yang Tidak Tergantikan oleh Intuisi Manusia
Tantangan mengenai apakah teknologi AI akan menggeser peran manusia dalam dunia komunikasi turut menjadi topik hangat dalam diskusi. Salah satu peserta yang juga merupakan anggota Perhumas Muda Yogyakarta, Himawan, mengungkapkan bahwa dirinya mendapatkan perspektif baru yang lebih praktis mengenai langkah-langkah yang harus diambil oleh seorang praktisi humas di era kecerdasan buatan.
Himawan menilai bahwa ketakutan akan hilangnya profesi humas akibat teknologi dapat diredam jika manusia mampu memosisikan AI sebagai instrumen pendukung. “Yang dijelaskan tadi adalah bagaimana kita menyikapi kehumasan di era AI dan bagaimana humas mengambil langkah-langkah, misalnya bekerja sama dengan media atau memanfaatkan AI. Menurut saya, AI itu tidak bisa menggantikan humas karena hanya sebagai alat bantu,” ungkapnya. Pandangan ini menegaskan bahwa elemen rasa, empati, dan pengambilan keputusan strategis tetap menjadi domain eksklusif manusia.
Membangun Kepercayaan Publik di Tengah Perubahan Media
Melalui kegiatan edukatif ini, para mahasiswa diharapkan memiliki kesiapan yang lebih matang dalam menghadapi tantangan komunikasi publik yang kian kompleks. Generasi muda didorong untuk menjadi garda terdepan dalam membangun dan menjaga kepercayaan masyarakat, sebuah aset yang paling berharga dalam dunia kehumasan.
Dengan berakhirnya forum Solo Prime Time 2026, semangat untuk terus belajar dan beradaptasi dengan disrupsi teknologi diharapkan tetap membekas pada diri para calon praktisi humas muda. Kesiapan mental dan keterampilan dalam memanfaatkan AI secara bijak akan menjadi penentu keberhasilan mereka dalam memenangkan kepercayaan publik di masa depan.